Kamis, 31 Januari 2013

PUISI UNTUKMU

  • PUISI UNTUK-MU

    jemarimu meliuk menyentil kata
    mencoba rajuk merayu merenda bahasa
    di kuncup bunga kau paksa mekar
    tuk memahami racauan mu yang meliar

    itu bukan kau
    karna kau bukan perayu kata
    lekuk tata bahasa mu pun tak meliar
    semua berawal dengan nalar

    kau rengkuh aku
    yang terhempas nyata syair balada
    di batas cakarawala jelang malam
    kau gunakan indera keenam
    dialog bathin rasa hati

    kini sedang kau larikkan sajak ini
    kata bahasa mantra membait
    seraya menyulam warna pelangi
    di pendaran kecemasanmu

    dan bersama kita kidungkan bahasa puitis ini
    dari secarik menjadi berlembaran puisi
    agar terkenang, tertulis
    Dalam sejarah hatiku

Senin, 28 Januari 2013

MALAIKAT BERSAYAP PUTIH

  1. kaulah malaikat..
    Yang bersayap Putih indah..
    Memberi cahaya terang
    Yang memudarkan kegelapan..

    deru jiwa kesepian..
    kau Usir dengan cinta..
    Tak terkira mulia..
    Kau buatku cinta..

    sebuah kisah..
    kutulis dengan pena..
    tentang kita berdua..
    Dalam puisi cinta..

    Tak lekang dirimu dalam hatiku..
    Karena cinta abadi dalam hidup..
    Tak pernah gugur..
    Walau termakan waktu..

    jangan pernah kau tiada..
    Karena aku tak kuasa..
    Kehilanganmu tercinta.
    sungguh aku tak bisa

MALAIKAT BERSAYAP PUTIH

BERKACA REMBULAN

  1. Aku berkaca pada bening embun
    saat malam berselimut kabut dingin halimun,
    awan mendung merah cinta
    berarak-arakkan rindu dibawah kemerlap
    nyala cahaya bintang bintang
    diatas kubah langit s’mara cintaku
    hanya untuk hatimu seorang,

    aku berkaca pada bening cahaya emas
    rembulan purnama raya
    dimana larik larik sinarnya
    begitu syahdu merajut rindu
    dibatas langit dini hari

    aku berkaca pada bening hati
    dibawah malam sendirian,
    lalu ku goreskan rindu untukmu
    diatas lembar kanvas jiwaku
    biar kau tahu…
    cintaku masih mengalir deras untukmu
    dalam aliran pembuluh darahku
    dan nadi s’maraku masih setia bergetar
    hanya untuk hatimu seorang

NAMAKU HUJAN

namaku hujan.
aku ingin segera berkenalan dengan kemarau
lalu mencatat gejala.
setiap musim sama saja
jendela terbuka di pagi hari,
malam-malam bertukaran
dengan rindu yang pecah.
namaku hujan.
tidak seperti menyusun rencana-rencana
aku jatuh dan mengalir saja
dan kelak juga ke matamu.

RANJANG ASMARA

RANJANG PUTIH S’MARA

Malam bergelora diatas ranjang putih s’mara,
kan ku ciptakan irama dalam nada desah birahi rasa
kedalam kalbu sukmamu,
dengan di terangi temaran cahaya lilin lilin cinta
yang kan membuat romanties suasana
dalam hati kita berdua…..
kubisikkan lembut ke daun telinggamu,
lalu kau mainkan getar getar
dawai kasmaran hatimu
yang mengetarkan langit
dan menguncang tanah bhumi,
sambil ku gumankan kata kata mesra merayu
sambil kupeluk hangat tubuh indahmu
dengan api gairah cinta yang membara

derai wangi hujan bunga melati
bercampur wangi aroma rempah rempah
turun datang berhamburan dengan mesra,
saat kau lintangkan kaki indahmu
melingkar manja dipinggangku
dan kita berdua saling berhadapan
penuh dengan rasa kasmaran,
kau rangkulkan kedua tanganmu
memeluk hangat kepundakku
sesekali kau lepaskan
rangkulan jari jari lentik lenganmu,
tuk menikmati suasana birahi kasmaran
yang aku ciptakan hanya untukmu,
lalu kedua tangan putih mulusmu,
coba menahan di rentang dada perkasaku
hingga leleh keringat birahi
membasahi tubuh kita berdua,
dan aku kecup penuh gairah rasa
lengkung bibirmu nan merekah
bak bunga mawar merah cinta,
kemudian kita berdua larut
dalam senggama asmara dewa dewi
diatas ranjang putih s’mara rasa…

bulan nampak memerah semu parasnya
bersembunyi dan mengintip malu malu
dalam kelambu tipis awan dini hari,
saat aku duduk ditepian ranjang asmara
dan kedua kakiku,ku pijakkan
pada muka t’latah tanah
dan kau berdiri dihadapanku
sambil menciumiku dengan mesra
serta manja pada bibirku
lalu dengan perlahan serta lembut
tubuh indahmu duduk perlahan
diatas pangkuan perkasaku
hingga yoni menembus lingga
dan membuncah dalam birahi rasa
dalam denyut sedu sedan berulang ulang

dingin teretes embun jatuh berderai
memcumbu mesra diatas
muka daun daun bunga cempaka,
menjilati putik sari penuh birahi,
ketika aku memiringkan tubuhku kekiri
tuk memeluk hangat tubuh mulus putih indahmu
yang kau memiringkan kearah kanan,
agar lingga dan yoni kita berdua
dapat bersatu dalam satu irama
desah nafas birahi diatas ranjang putih s’mara
sambil di iringi gending hati asmaradana
yang mengalun di atas langit dini hari…
dan sepasang burung perenjak
yang sedang asyik memadu cinta
hanya bisa terdiam diatas atap kamar cinta
menikmati hembusan nafas kita berdua
yang saling memburu rasa….

dalam dekapan peluh birahi rasa,
kugumankan lembut ke telinggamu
kalimat kalimat s’mara cinta ;
“ malam ini diatas ranjang putih s’mara
t’lah ku lukiskan cinta yang membara
kedalam rasamu..
dengan tinta bening
yang menetes dari dalam pena s’maraku
ke dinding lingga kasmaranmu,
coba kau dengar debar debar
dalam jantungmu berdenyut begitu kencang
dan deru nafasmu yang memburu tak beraturan
bagai deru ombak birahi yang datang menjilati
bibir pantai berpasir putih,
serta menghempaskan rasamu ke alam surgawi,
hingga kau mendesah histeris
tersaput deras gelombangnya
hingga fajar terbit di ujung batas langit cakrawala "
RANJANG PUTIH S’MARA

    Malam bergelora diatas ranjang putih s’mara,
    kan ku ciptakan irama dalam nada desah birahi rasa
    kedalam kalbu sukmamu,
    dengan di terangi temaran cahaya lilin lilin cinta
    yang kan membuat romanties suasana
    dalam hati kita berdua…..
    kubisikkan lembut ke daun telinggamu,
    lalu kau mainkan getar getar
    dawai kasmaran hatimu
    yang mengetarkan langit
    dan menguncang tanah bhumi,
    sambil ku gumankan kata kata mesra merayu
    sambil kupeluk hangat tubuh indahmu
    dengan api gairah cinta yang membara

    derai wangi hujan bunga melati
    bercampur wangi aroma rempah rempah
    turun datang berhamburan dengan mesra,
    saat kau lintangkan kaki indahmu
    melingkar manja dipinggangku
    dan kita berdua saling berhadapan
    penuh dengan rasa kasmaran,
    kau rangkulkan kedua tanganmu
    memeluk hangat kepundakku
    sesekali kau lepaskan
    rangkulan jari jari lentik lenganmu,
    tuk menikmati suasana birahi kasmaran
    yang aku ciptakan hanya untukmu,
    lalu kedua tangan putih mulusmu,
    coba menahan di rentang dada perkasaku
    hingga leleh keringat birahi
    membasahi tubuh kita berdua,
    dan aku kecup penuh gairah rasa
    lengkung bibirmu nan merekah
    bak bunga mawar merah cinta,
    kemudian kita berdua larut
    dalam senggama asmara dewa dewi
    diatas ranjang putih s’mara rasa…

    bulan nampak memerah semu parasnya
    bersembunyi dan mengintip malu malu
    dalam kelambu tipis awan dini hari,
    saat aku duduk ditepian ranjang asmara
    dan kedua kakiku,ku pijakkan
    pada muka t’latah tanah
    dan kau berdiri dihadapanku
    sambil menciumiku dengan mesra
    serta manja pada bibirku
    lalu dengan perlahan serta lembut
    tubuh indahmu duduk perlahan
    diatas pangkuan perkasaku
    hingga yoni menembus lingga
    dan membuncah dalam birahi rasa
    dalam denyut sedu sedan berulang ulang

    dingin teretes embun jatuh berderai
    memcumbu mesra diatas
    muka daun daun bunga cempaka,
    menjilati putik sari penuh birahi,
    ketika aku memiringkan tubuhku kekiri
    tuk memeluk hangat tubuh mulus putih indahmu
    yang kau memiringkan kearah kanan,
    agar lingga dan yoni kita berdua
    dapat bersatu dalam satu irama
    desah nafas birahi diatas ranjang putih s’mara
    sambil di iringi gending hati asmaradana
    yang mengalun di atas langit dini hari…
    dan sepasang burung perenjak
    yang sedang asyik memadu cinta
    hanya bisa terdiam diatas atap kamar cinta
    menikmati hembusan nafas kita berdua
    yang saling memburu rasa….

    dalam dekapan peluh birahi rasa,
    kugumankan lembut ke telinggamu
    kalimat kalimat s’mara cinta ;
    “ malam ini diatas ranjang putih s’mara
    t’lah ku lukiskan cinta yang membara
    kedalam rasamu..
    dengan tinta bening
    yang menetes dari dalam pena s’maraku
    ke dinding lingga kasmaranmu,
    coba kau dengar debar debar
    dalam jantungmu berdenyut begitu kencang
    dan deru nafasmu yang memburu tak beraturan
    bagai deru ombak birahi yang datang menjilati
    bibir pantai berpasir putih,
    serta menghempaskan rasamu ke alam surgawi,
    hingga kau mendesah histeris
    tersaput deras gelombangnya
    hingga fajar terbit di ujung batas langit cakrawala "

WAJAHMU PURBA

Wajahmu yang purba
Membuatku lupa segala warna

Memantul pelangi putih
Dari pelupuk hijau padang ilalang keningmu
Setelah hujan memotret tubuhmu
Kau tersungkur menjadi tanah liat
Yang tak sepekat tahilalat

Matamu yang teduh
Membuatku hilang seluruh

Biji-biji musim mengeping
Tumbuh serimbun lukamu
Setelah kabut lindap di tikungan sebelah jembatan
Matahari mengendap-endap

Jumat, 25 Januari 2013

MENTARI PAGI


MENTARI MASA LALU

Tertutup mata hati
terobek-robek tak berhenti
seharusnya bukan pergi
tapi disini temani pagi

terjerat oleh waktu
tergoyahkan tak menentu
bukan bimbang yang ku tuju
dan dia pun dahulu setuju

sinarilah mentariku
terbitlah dari masa lalu
agar aku tumbuh dari tunas-tunas rindu
Berikan cahayamu
hangatkan aku yang beku
agar aku mampu temukan hidupku

KUTITIPKAN RINDU


  1. KU TITIPKAN RINDU PADA
    BUTIR-BUTIR DERAI HUJAN...

    Langit pagi begitu teduh memayungi
    diatas ruang hatiku.
    Matahari nampaknya masih
    berbaring malas diperaduannya.
    Rintik-rintik hujan mulai turun
    membasahi pelataran muka tanah.
    Dalam butiran-butiran derai air hujannya,
    ku titipkan sejuta rindu dan harapanku padamu,
    perempuanku


    Dibawah tirai hujan, ku tuliskan ;
    sebuah syair cinta untukmu
    dan semilir angin ku jadikan kuas
    untuk melukis perasaan cintaku padamu,
    pada dinding-dinding airnya yang jatuh
    menyentuh kaki tanah
    dengan kehangatan rasaku.

    Aku hanya ingin mengirim isyarat
    pada hati padamu itu ; perempuanku
    bahwa jatuh cinta kepadamu begitu indah
    dan menyenangkan buat-ku.

    Entahlah... apakah isyarat hatiku ini
    sampai kedalam rasa di ruang hatimu.
    Aku tak perduli, aku hanya ingin
    mengungkapkan luapan rasa yang ada padamu.

    Gemericik-gemericik airnya, ku jadikan tasbih cinta
    untuk sebuah doa pengharapanku.
    Dan aku tak berharap, matahari segera bangun
    dari pembaringannya yang berselimut hangat awan.
    Ku lihat pelangi kasmaran,
    nampak seperti jembatan jiwa
    yang menghubungkan rasamu dengan rasaku.
    Bertaburan hujan bunga mawar diatas hatiku saat ini.
    Selusin bidadari terbang turun dari langit kahyangan
    hanya untuk menikmati semerbak aroma wewangian,
    dalam derai-derai hujan rindu yang turun
    begitu mesra serta
    penuh rasa kasmaran hatiku padamu,
    perempuanku

    Aku selalu menitipkan harapan yang sama
    di setiap musim, dalam setiap butiran-butiran
    air hujannya yang berderai dari atas langitnya.
    Seperti menemukan kepingan terakhir
    sebuah puzle rasa...
    yang sedang kau susun didalam hatimu.
    Dan mungkin seharusnya, cinta ini sudah berada
    di tempat yang seharusnya,
    di ruang hatimu dan hatiku.

    " Dan kau tahu; aku selalu mencintaimu,
    dan menerima apa adanya tentang dirimu...


Kamis, 24 Januari 2013

KENANGAN SEMALAM TADI

~~~KENANGAN SEMALAM TADI~~

Dengarkanlah ini, Cinta
Sedesir hembusan kerinduan
Dari denyut dan dengus birahi yang masih suci
Kugubah dalam lyrik-lyrik kecil dan bersahaja

Ini adalah pengalaman pertama dan terindah
sesuatu yang merasuk ke sanubari
tentang mimpi-mimpiku denganmu
penuh gairah dan misteri

Hingga fajar beranjak aku masih tegar mengenangmu
pada rona lazuardi pagi yang tersenyum ramah
Ku sertakan asa di ubun matahari yang masih merah
agar menerangi hati dan kasihmu

Cinta
Dimana gerangan engkau
Betapa rindunya aku, hari ini.
~~~KENANGAN SEMALAM TADI~~


Dengarkanlah ini, Cinta
Sedesir hembusan kerinduan
Dari denyut dan dengus birahi yang masih suci
Kugubah dalam lyrik-lyrik kecil dan bersahaja
 
Ini adalah pengalaman pertama dan terindah
sesuatu yang merasuk ke sanubari
tentang mimpi-mimpiku denganmu
penuh gairah dan misteri
 
Hingga fajar beranjak aku masih tegar mengenangmu
 pada rona lazuardi pagi yang tersenyum ramah
Ku sertakan asa di ubun matahari yang masih merah
agar menerangi hati dan kasihmu
 
Cinta
Dimana gerangan engkau
Betapa rindunya aku, hari ini.

Rabu, 23 Januari 2013

ANTARA AKU DAN DIA (nelayan)

  • ~ANTARA AKU DAN DIA(nelayan)

    Matamu ekor pari tajam menyeringai, ada juga bisa?
    Meski beribu dalih terus kudesak seperti ombak
    Dahagamu akan puisi tak pernah tuntas menghitamkan waktu
    Pada ombak yang mengusirku tiada henti

    Kau menginginkan puisi menjadi garam
    Menjadi doa-doa atau jimat pengobat luka
    Padahal ribuan puisi telah kukirimkan serupa mantra
    Perempuan dengan jemari yang terus menujum mimpi
    Bayang wajahmu semakin menjelma serpihan api

    Lelaki itu memintal gelombang laut
    dengan jemarinya, menumbuhkan
    karang-karang kebisuan jadi ganggang
    biru muda.

    Kolam ikan rahasia, katanya.
    Nanti, menjelang senja,
    diintipnya para bidadari
    menjuntaikan selendang,
    mencelupkan kaki-kaki putih
    tanpa gelang, dan membasuh
    kerinduan.

    Seperti segelas kopi buatan Ibu, gumamnya
    Ada kenikmatan yang berteriak lantang
    serupa sayap-sayap tipis ikan terbang,
    berdesir di pinggir perahu
    yang melaju tenang.

    Meruapkan asin kenangan,
    menumpahkan sisa-sisa sajak semalam.
    Sajak tentang seseorang.
    Dia menungguinya dekat menara suar,
    menunggu kabar; Berapa lama lagi kau menghilang?
    Betapa sepi petualangan,
    betapa nyeri telah menyemak ilalang.

DESIR MELAMBAI


  • Gemerisik  gemruncing
    Berarak damai membelai ranting
    Kuasa rasa menusuk
    Bagai jarum dalam kehalusan pori pori jiwa

    Desir melambai ke tujuh samudra
    Mengikis butiran yang menetes
    Dalam wujud beningnya embun
    Yang menderai kalas
    Halus menyentuh pucuk daun

    Sejuk nya bumi ku
    Indahnya langit ku
    Itu khayalku
    Bergelombang indahnya ombak laut ku
    Betapa birunya samudra ku

    Aku nikmati dalam relung puji syukur ku
    Tingkah nakal liuk sang bayu
    Lalu melandai cakrawala kelabu
    Menyisakan serpih
    Menjadi haru dipersimpangan hari

Selasa, 22 Januari 2013

MELATIKU DIAM





 
Bagai melati kau diamPutih membusukdiluasnya pemakaman cinatempat birahi mengadu asmaraMemungutimu tuk rayuanBagai melati kau diamPutih mewangidisekotak bara dupatempat liar permainan cintaTerkikis membujuk duniaBagai melati kau diamPutih meronamenghias sanggul para gadisMerampai disebuah ikatansampai layu lalu matiBagai melati kau diamPutih suciditengah lebatnya hujanmerekah bersama embun pagiMenyampaikan makna pada hati

Wanita, sosok yang sulit untuk dimengerti. Diamnya mengandung makna majemuk, banyak lelaki takkan pernah bisa memahaminya, atau mungkin salah dalam mengartikan diamnya. Kala diamnya berarti ingin dimengerti lelakipun seringkali memaknainya ingin menyendiri. Adapula saat diamnya ingin bebas sejenak, lelaki sering mengartikannya ingin terus dijaga dan diperhatikan.

Dalam marahpun wanita sering memlih diam, tak ada ucapan, tiada keterangan sedikitpun. Lelaki sering memaksanya berbicara menjelaskan apa adanya, namun diam tetap jadi pilihan hingga hati mereka membusuk penuh kebencian. Sebagian besar wanita dikala hatinya resah, sangatlah mudah dalam ajakan melepas penat terjun pada gelapnya kenistaan. Namun tak sedikitpula yang tetap diam mencari pintu keluar terbaik untuk mempertahankan kesucian hidup.

Wanita bagai melati dikala diam. Lelaki adalah udara yang seharusnya mengenalinya. Disebaliknya lelaki adalah pengeras suara yang takkan bersuara, tanpa kau ucapkan maumu tuk berbicara sesungguhnya padanya.


























   

Senin, 21 Januari 2013

PENGEMBARAN

  • ~~~DALAM PENGEMBARAANKU~~~


    aku melihat kau berdiri disana.. diantara jejalan dan riuh tarian surga.. lalu kau syairkan apapun yang kau rasa pada dua bilah sisi mata pedang kehidupan.. mengharukan jiwa jiwa yang menatap kosong pada segala penjuru angan.. juga
    membakar hati yang tengah menyelam dilautan percintaan.. keterasingan menjadi payungmu.. kesendiriaan menjadi jubahmu.. keduanya menciptakan rahasia rahasia cinta yang paling terapuh..

    wahai pengembara dalam genangan kata kata.. tidak selamanya engkau mampu meneriakkan kepedihan diantara garis takdir yang telah tertetapkan.. tidak selamanya engkau mampu berdiri dibarisan kecemasan yang kau ciptakan sendiri.. kita adalah takdir kita sendiri.. kita hanya dipertemukan oleh aksara dalam ketajaman mata hati sendiri.. takdir memberikan kehendak yang sama dengan arah kehendakmu.. bahagialah dengan segala kesah yang mampu membuat semesta raya bertekuk lutut dipelukanmu..

    pandanglah matahari pada savana yang membentang diantara batas batas hatimu.. fitrahnya tak mengenal batasan barat dan timur.. meski nisbahnya adalah benar dari sang timur.. lalu remukkanlah segala sesal yang berjanin dihitamnya memoar tentang cinta.. jadilah lentera dalam indahnya sangkar.. jadilah api yang menghanguskan segala noda dan menjadikannya butiran debu..

    kita akan melintasi penyatuan jiwa dengan raga karenanya.. jumpailah wujud jiwa yang tak bertara.. ia selalu dalam keterikatan, namun tak terikat pula padanya.. jika kita terlampau mencintainya, maka jiwa itu akan musnah dalam raga.. namun bila kita sungguh sungguh mencintainya, maka.. lepaslah.. dan jiwa itu akan menerangi keutuhannya.. ini adalah hakikat penyerahan jiwa.. dan cintailah kefanaan akhir yang telah terjanjikan..

Jumat, 18 Januari 2013

PADA SEBUAH MASA

Pada Sebuah Masa~~~

Malam ini angin mengirimkan getar jemarimu
Ke ruang-ruang kenangan pada sebuah masa lalu
Dan bulanpun menyusun berlipat senyum
Seperti wajahmu yang selalu kurindu

Tentang kita selalu kutampung semua cerita
yang dahulu merah jambu dan menggenangi ruang dada
Malam ini di sudut taman budaya
Siluetmu menepi di ujung bangku
Dalam kosongnya perjalanan waktu

Sore tadi telah kudatangi pantai Ulee Lheu
Dengan keberanian yang bertahun kukumpulkan
Sejak amuk laut mengirimmu menuju langit
Lalu dua baris airmata mengalir turun
Seturut matahari yang pulang ke laut

Dan malam ini aku kembali kuyup
Mengeja wajahmu dalam dekapan yang hanya angin

SRIGALAKU

debur hatiku selalu mengharapkan kehadiranmu
pada bibir ranjang ini aku menunggu
ingin kuluapkan sejuta rasa
rasa cinta yang bergelora didada

sepenggal harapku akan belaimu
akan cumbu yang tiada bertepi
akan hasrat birahi yang tak pernah mati
karena kuingin mereguk manisnya cinta dalam dawai asmara

mari menari sayang
dalam tarian alam kehangatan
dibawah sinar redup lampu kamar
mari berselimut tipis sayang
agar hangat tetap tercipta
dalam panas gelora asmara
mari lepaskan segala yang menempel dibadan
tepiskan bayang kelam
ciptakan alunan merangsang
penuhi gejolak hati dengan birahikarena cinta tak akan indah tanpa senggama

biar tercipta anyir yang meleleh dari bumi rahim
biar terkuras peluh yang ada dibadan
biar sengal kalahkan gelombang lautan

'ciptakan pesonamu wahai srigalaku

MENYERUAK MASUK

bibir merekah bergincu
rokmini gantung melambai
payudara nyaris muntahkan isi
melenggang bebas mengeram birahi
mata jalang liar menebar
merebus kagum membual khayal
tak lekang mengoyak tegang isi celana
bagaimana melesat gesit menyaruk icipi tubuh
lalu mereka saling merasuk rangsangan
apa kabar bibir birahi?
masih setiakah kau bersanding ranjang
tiang yang sigap menyergap tiap terjangan
atas hasrat yang di lipat dalam rayuan
telentang aura telanjang
lucuti cumbuan yang di pacu nafsu
membuangnya pada ujung rasa klimaks
melaju puas janji kata yang berbilang

MENGEJAR BIRAHI

                                        Nafas-nafas memburu
Birahi mengejar
Hasrat membakar
Gairah bergelora

Ranumnya pucuk kepemimpinan
Mengangkang terbuka lebar
Mata-mata itu terbelalak
Menatap dengan sejuta hayal

Pemimpin, memimpin
Penguasa, menguasai
Mansturbasi jelang pemilihan
Hayalkan setubuhi kursi terpilih

Halalkan haram
Najiskan suci
Mengolah fakta
Mengumbar propaganda

Rayu si lugu
Usir si bengis
Telanjangi harga diri
Permalukan mereka yang besebrangan

Fitnah, memitnah
Umpat, mengumpat
Agar mereka terkapar
Digagahi berkali-kali

Selesai sudah
Ejakulasi
Orgasme
Puncak kepuasan

Namun benihkan kebencian
Janin penuh dendam
Mereka si lawan
Mereka yang tertipu janji manis

Esok atau lusa
Ledakan itu terjadi
Sebagai pertanda
Hancurnya dinasti kekuasaan

Karena pemimpin itu
Tak bisa memimpin dirinya sendiri
Tak kuasa kendalikan pribadinya
Tak becus membina hawa nafsunya

Kamis, 17 Januari 2013

HASRAT

  • Di dadamu itu telah matang segala dahaga
    Sumpah serapah dan hasrat terpenjara
    Kucing hitam hingga sorban di kepala
    Mereka tersiksa ingin menerjang tapi tak bisa
    Dadamu itu puncak impian para lelaki
    Hasrat menikmati seperti kucing menahan hati
    Diam-diam mengutuki mengapa engkau begitu seksi
    Sambil merancang undang-undang pengalih birahi
    Dadamu itu birahi keajaiban beranak-pinak
    Menyergap segala selangkangan meranumkan hasrat
    Jakun turun naik seolah zikir padahal sesat pikir
    Lalu membungkam kegairahan dengan kitab
    Seolah itu kewajiban atas nama agama dan moral

CEMBURU CUMBU

Aku tau dia bersamamu setiap hari. tak perlu kau beri tau. dia memelukmu setiap hari. itu pun tak perlu kau beri tau. dia menyentuhmu juga setiap hari. kemudian membelaimu. merabamu. menikmati bibirmu. mencintaimu dan selalu bercinta denganmu. pun ku tau dia mendekap erat tubuhmu pada setiap malam kala birahi memuncak. aku tau tanpa perlu kau beri tau.

Tapi malam ini. diruangan gelap yang lembab berhiaskan wangi parfum yang sama-sama kita kenal. ditemani cahaya tipis rembulan menyeruak masuk untuk memberikan sedikit pencahayaan pada butanya nafsu yang kita punya. saat diam memeluk kita berdua setelah birahi tertumpah di ranjang yang ternoda. aku dan kamu terhempas dalam diam. menikmati sisa-sisa nafas yang terengah. aku telah menjamahmu dengan nafsu. melampiaskan dendam dari semua hari yang tak perlu kau beri tau. ini rinduku yang mencumbumu dengan cemburu yang menggebu. tak perlu kau beritau. karna kini ku tau bahwa masih ada rindu untukku.

DESAHAN TERAKHIR

Desahan bayu lembut mengalun
Lirih mengalir darah mendesir
Iringi hasrat yang terus mengalir
Menyembul pori  membuncah birahi
Saat helai demi helai daunmu terlepas
Memacu jantungku ke puncak rasa

Lepaskan rasamu, satukan tubuhku dalam pelukmu..
Mengais setiap relungku yang kering...
Mainkan jarimu dalam helai rambutku...
Mainkan kecupmu dalam tiap pori-poriku..
Aku meringkuk disini sepi!! dingin!!

ke bumi
Menggelepar dalam erangan tak tertahan

Usah kau meringkuki dinginmu
Biarkan pacu jantungku hangatimu
Berdua kita kepakkan sayap sayap rasa
Melayang dalam buai awan biru
Hingga kepak tertinggi hempaskan kita
Hingga bayupun malu resapi porimu yang halus

BIRAHI MALAM

di sebuah kelam, kota tua, malam dingin
mendapatimu dengan langkah berjingkat
terjepit sapa tubuhtubuh penghangat
kau gugup dirangsang riak gairah
angin mengguyur hasrat
merentangkan urat
kita pun beranjak menuju bar pusat birahi
katakata mengucur dari mulut botol wisky
landai ciuman demi ciuman berlepasan
lidahmu meluncur basah sesaat di kegelapan
melumat puting sebelum botol berdenting
dingin kian menegaskan angan
tak cukup sekian
kita pun beranjak menuju perbatasan

KEKASIHKU BINTANGKU

Kekasihku, akulah bintangmu yang jatuh
engkau tersesat seribu tahun cahaya
kubakar sendiri cintaku sampai habis
redup, pun cahayamu menerpa
aku tak lagi
aku runtuh
menjadi monster lubang hitam
kumakan sendiri dengan doa dan harapan
kenangan, kata, puisi, lagu,
mimpi, hasrat, birahi, rindu,
semua lebur tanpa bentuk!!!
tanpa kembali 
ke semesta yang kukenal.

Kekasihku, akulah bintang yang runtuh
aku menjadi monster tanpa rupa
melayang di angkasa misteri-misteri hati
menjadi saksi keajaiban hidup tak terperi
aku menelanmu kalau bisa
sampai hidup menjadi tak bernama
sampai lahir bintang baru
yang bukan siapa-siapa.

BERSULANG DIBIBIR GELAS

BERSULANG DI BIBIR GELAS


masih kering gairah bibir, di gelas kita dentingkan
malu-malu pancing kerlingan kita bersulang
reguk wisky tak ingin lagi gelas mengering
lagi dan lagi isi gelas, wisky kau tuang

jingkat menjingkat tumit menjingkat
jinjit, kujinjing gaun tubuh ini terapit
sempoyong desah saling berdendang
rengkuh terengkuh gemulai melayang

kau tuang kembali, di bibir gelas kita dentingkan
gelonjat gelora panasnya wisky sulut birahi
berdegup, wisky meredup akhiri dentingan
sudah basah peluh, lincah lidah redam birahi


Senin, 14 Januari 2013

MALAM


wahai angin malam
sentuhlah raga
sapalah dengan sejukmu
hilangkan dingin yang membeku
di sekujur badanku

wahai malam yang membentang
biarkan aku berdiri dan berlari
menggapai mimpi malam ini
untuk menaklukan dunia

wahai malam yg kian kelam
teruslah berjalan dengan angkuhmu
lalu rengkuh aku dalam pelukmu
untuk bisa menggenggam asa ini


MENYAPA RESAH


Menangis di atas gelisahku
Menyapa derita memutar fatwa
Menutup lidahku yang tidak tertawa
Fajar mennyingsing diantara jarum arloji sang dewi
Penguasa firman menjadi pewaris ayahku pada angin
Syair-syairku musnah dirimbun masa
Menjadikan hidupku tak memiliki Tuan

Ku tak sudi meratapi jalan
Walau gelap selalui menghantui langkahku
Aku tau mengapa dan bagaimana
Walau purnama enggan taburkan sinarnya
Aku tau belati terhunus padaku
Bisa akan melesat pada jantungku
Tapi ....Ketika resahku menyapa
Kutanggalkan selendang biruku
Di tanganku cakra siap ku layangkan
Membentur siapa saja yang melintas

Ku diam dalam tapaku kini
Walau _____"aku bertahta pada hatiku sendiri"

MANTRAM SANG DEWI

  1. Wahai malam yang hitam pekat
    Aku datang dengan kembang setaman
    Dengan mantram puja puji Dewi
    Dan tarian jiwa yang nelangsa

    Wahai bulan yang bersinar terang
    Bawalah aku kedekapan purnamamu
    Ingin ku buang beku yang mengigil ragaku
    Basuhlah hitam yang ada di lorong hatiku dengan terangmu

    Wahai awan yang berarak
    Bawalah aku mengitar semesta
    Kan senandungkan kidung jiwa
    Yang mengusik setiap masaku

    Kini aku bersila membentangkan tangan
    Ambilah siksa yang bersemayam
    Lihatlah tarianku
    Yang akan menggetarkan singgasana raksa

    Aku datang wahai sang pemilik malam
    Aku datang dengan kembang setaman
    Aku tarikan tarian roro jongrang
    Yang Meliukan pinggul dan mengentakkan kaki
    wahai sang bulan
    Inilah mantramku




JEJAK SEBUAH TANDA

esempurnaan ranjan membentengi malam
Agar dirinya terjaga dari bencana menghanguskan segala
Bahwa malam hanya sebatas bunga mimpi
Yang mengotori hati dalam api suci

Kini aku masih berdiri
Kekuatan utuh pada tubuh sang Dewi
Ruh tak hilang bersemayam
Terang memangsa rumus-rumus malam

Selembar kelopak bunga menerbangkan amarah gelisah
Reranting patah pada cumbu rayu musim
Aura menyingkap setubuh ruh
Yang melontar sinar kebencian bak cobra melesatkan bisa

Daun-daun ngilu jatuh kesungai
Sunyi tiba-tiba mendesak batin di ujung jalan
Tangis menembangkan perih rindu yang tak sampai
Aku peduli apa?

Dalam diam hati berdo'a

Hasrat ingin menenggelamkan sang pujangga cinta
daun yang diurapi firman rindu
Berubah menjadi gejolak api kasih tak sampai
Aku peduli apa?
Aku bertahta dijiwaku sendiri

SEMAYAM NADI

Disini segala denyut bermula
Yang hidup akan melafal mati
Dalam ayat-ayat nafas yang berhembus
Menuju kematian

Senja kala ini telah mulai menampakkan diri dengan indah Jingga
Akan menyajikan cerita tentang malam yang penuh mimpi
Dari gelapnya malam akan menyajikan gentayanga ruh
Harapan kembali menjadi diri sendiri
Pada tawa hari bermain dahaga

Adalah kekuatan yang bangkit dari tidurnya
Kendali seluruh alam melepaskan identitas diri
Tubuh dibiarkan diam
Karna malam bukan miliknya
Hentikan malam mala petaka dari malam
Sampai terbuang-buang

Aku adalah aku yang bertahta hatiku sendiri
Mendiamkan bara dalam semayam nadi suci