Rabu, 23 Januari 2013

ANTARA AKU DAN DIA (nelayan)

  • ~ANTARA AKU DAN DIA(nelayan)

    Matamu ekor pari tajam menyeringai, ada juga bisa?
    Meski beribu dalih terus kudesak seperti ombak
    Dahagamu akan puisi tak pernah tuntas menghitamkan waktu
    Pada ombak yang mengusirku tiada henti

    Kau menginginkan puisi menjadi garam
    Menjadi doa-doa atau jimat pengobat luka
    Padahal ribuan puisi telah kukirimkan serupa mantra
    Perempuan dengan jemari yang terus menujum mimpi
    Bayang wajahmu semakin menjelma serpihan api

    Lelaki itu memintal gelombang laut
    dengan jemarinya, menumbuhkan
    karang-karang kebisuan jadi ganggang
    biru muda.

    Kolam ikan rahasia, katanya.
    Nanti, menjelang senja,
    diintipnya para bidadari
    menjuntaikan selendang,
    mencelupkan kaki-kaki putih
    tanpa gelang, dan membasuh
    kerinduan.

    Seperti segelas kopi buatan Ibu, gumamnya
    Ada kenikmatan yang berteriak lantang
    serupa sayap-sayap tipis ikan terbang,
    berdesir di pinggir perahu
    yang melaju tenang.

    Meruapkan asin kenangan,
    menumpahkan sisa-sisa sajak semalam.
    Sajak tentang seseorang.
    Dia menungguinya dekat menara suar,
    menunggu kabar; Berapa lama lagi kau menghilang?
    Betapa sepi petualangan,
    betapa nyeri telah menyemak ilalang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar